(. . . .dengarlah matahariku, suara tangisanku. Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku. . . .)
Aku merasakan sebatang pohon tumbang di tubuhku. Diarak keliling kota sampai ke akar-akarnya. Sampai di tempat di mana aku pernah menunggumu. Pohon itu tumbuh lagi di situ. Penuh bunga dan anak-anak kecil berlarian di sekitarnya.
Aku merasakan banyak pohon lain tumbuh di sekitarku. Memandangku dengan penuh ancaman. +Aku bisa hidup sendiri bukan?+ Meski cukup lelah untuk tetap berdiri di antara orang-orang asing yang berlarian.
Pagi itu aku memelukmu. Seperti mengucap kalimat mati yang sudah lama terpendam: Aku mencintaimu. Ledakan di Hiroshima kembali hadir di sini. Membuat gemuruh setiap jantung yang berdetak. Pohon itu tumbang di kakimu. Rebah di pundakmu.
Selamat pagi dunia: 1945 yang meledak. Revolusi itu pecah di sini: dada yang terkoyak. Seperti seribu matahari yang terbit bersama. Seribu pelangi bersilang di cakrawala.
Aku merasakan sebatang pohon tumbang di tubuhku. Diarak keliling dunia. Sampai di tempat dimana aku pernah menunggumu. Aku ingin rebah di situ. Di pundakmu.
(. . . .ucapkan matahariku, puisi tentang hidupku. Tentangku, yang tak mampu menakhlukkan waktu. . . .)
(. . . .) from "matahariku" Agnes Monica.
24 July 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment