Aku ingin pergi, seperti mendirikan tugu selamat tinggal di perbatasan hatimu. Tapi seperti langkah terakhir di depan pintu, aku hanya menunggu detik-detik yang berlalu. Seperti dinding tebal di sekeliling rumahmu. Menjagamu dari jalan raya yang menjemputmu pergi.
Aku ingin pergi, seperti menanam tonggak-tonggak perbatasan yang rapuh. Aku hanya ingin berlari..... Berlari. Menemukan diriku kembali di tempat-tempat yang tak lagi ditemukan matahari. Seperti mencari ruang kosong di tengah kehampaanku sendiri.
Mematahkan sayapku.
Membenturkan diri ke dinding.
Memukuli tiang listrik.
Telanjang di antara orang ramai.
Memotong lidahku sendiri.
Atau cukup dengan kalimat sederhana: Aku pergi.
~ Meskipun itu seperti mendirikan banyak nisan untuk diriku sendiri ~
Namun. Mencari perbatasan tubuhmu seperti mencari ibu yang menghilang. Ribuan tahun aku menunggu, memesan bangku ruang tunggu. Menatap diri sendiri dari kaca jendela yang lusuh. Hujan tak pernah berlalu.
Membagi lagi halaman rumahmu, pada siapapun yang mengetuk pintu. Dan siapapun itu yang menjemputmu. . .
Berilah dia waktu.
Berilah dia waktu.
Berilah dia waktu.
Dan biarlah aku di sini, mencampakan tubuhku yang setengah jadi ini. Mengisi gelas-gelas kosong di ruang tunggumu. Menjagamu dari jalan raya yang menjemputmu pergi.
04 July 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


2 comments:
yaaahhh...
abiz...
lagi lagi...
aa..
mana post-nya lageh..
katanya nunggu neng post..
wee..
neng dah sering post niy..
aa ada utang ma neng!!!
+masih inget weeekkk+
Post a Comment