Hujan yang tipis selalu menjadi bingkai dari pertemuan-pertemuan kita. Sebagian memberi kehangatan pada rona wajahmu. Aku yang selalu lupa menghitung senyummu yang menetes, melihat ketidakpastian akan matahari.
Langit putih di pagi yang jauh selalu memberiku kenangan. Manakala pelangi yang kau goreskan membuat kita kehilangan banyak warna. Nyala-nyala hati bahkan membakar sisa-sisanya. Tak ada yang tersisa di meja hatiku selain pertempuran-pertempuran dan semak-semak yang beranak pada kesengsaraan.
Pelukmu yang lepas dan kepergianku yang bergegas, menjadi awal dari surat-surat kosong yang tertinggal. Pesan-pesan yang tak terbaca dan kerinduan yang samar. Gemuruh baling-baling kapal tak pernah memecah kesunyian-kesunyian kita.
Masih adakah badai yang akan mengantarku, melabuhkan ombak-ombak di bibir pantai mu. Tempat kita menuliskan segala kemesraan sepanjang musim. Tempat kita merayakan pertemuan-pertemuan kita bersama burung-burung pengembara. Masih adakah jalanan kosong itu, tempat kau menunggu dengan segala kecemasan-kecemasanmu.
Karawang, 15042008
16 April 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment