Kadangkala kesedihan menjadi kamar-kamar tersendiri, seperti hotel-hotel yang risau tanpa penghuni. Tapi suatu pagi yang gelap telah melukis dirimu diantara orang-orang bertopeng, bergincu, dan bertaring. Melayang telanjang menghiasi koridor. Lalu gerimis yang turun sesudahnya seolah menjawab semua air mata.
Kita terduduk di bangku yang sama dari malam ke malam. Saling mengirim kabar kematian, dari semua mimpi yang terbunuh. Saling menghapus riasan untuk kesedihan yang lain. Lalu semua pengalaman putih itu berubah menjadi buku harianmu. Penuh kuburan waktu di situ. Dan semua yang bersedih, mendirikan kuil untuk setiap kenangan yang lewat.
Hujan telah membawamu kembali ke pelukan angin. Menerbangkan kesedihanmu bersama sayap-sayap patah yang kau kenakan. Lantas aku berteduh di halaman rumahmu, membakar kertas, bunga, dan batu. Ribuan tahun aku di situ. Seperti iblis yang dikutuk dan Adam yang terusir. Sampai mendapatimu mati, atau mendapatkanmu kembali.
16 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment